Friday, 25 May 2018

Seminar Semesta Dalam Ajang Mengajak Mahasiswa Mengetahui Keasyikan Radio




Acara Seminar Semesta ‘Semarak Radio Berpesta’ yang diadakan pada Sabtu (12/5/2018), yang bertempat di Eiscaffe jalan bendungan si gura-gura Malang. Acara ini di isi pemateri oleh Ravesta Affianto, beliau adalah salah satu penyiar yang cukup terkenal di stasiun radio Surabaya, lebih tepatnya di Gen.FM Surabaya. Seminar ini diadakan oleh UMM.FM yang bertujuan untuk mengenalkan kepada masyarakat terutama kalangan mahasiswa.
Pelaksanaan seminar ini cukup ramai dan memang sesuai dari tujuan diadakannya seminar ini bahwa yang datang pada acara seminar mayoritas dari kalangan mahasiswa. Dalam seminar pun peserta cukup antusias karena memang pembicara cukup baik dalam menyampaikan materi nya, “Pematerinya seru, menarik dan tidak membosankan” – kata Kevin salah satu peserta seminar. Pembicara dalam seminar, Kak Vetto panggilannya, dia menyampaikan berbagai hal mengenai seputar radio dan berbagi ilmu mengenainya. Mulai dari menjelaskan bagaimana menjadi announcer atau penyiar yang baik, kemudian cara membuat script untuk penyiar radio yang benar itu bagaimana. 
Kegiatan seminar ini bukan hanya bertujuan mengenalkan ruang lingkup radio, melainkan menjadi wadah atau sharing ilmu mengenai pengalaman pembicara dalam pekerjaannya menjadi penyiar radio yang cukup tenar dan disegani, “Supaya bisa sharing ilmu mengenai pengalaman dari pemateri, kemudian menyediakan tempat bagi mereka yang ingin mendapatkan dan mencari tahu apa sih keasyikan dan keuntungan dalam menjadi penyiar radio”.
Seminar radio ini juga menyampaikan atau bertujuan memberitahu bahwasannya radio pada era sekarang masih bisa menjadi pilihan media bagi masyarakat dan masih bisa bersaing dalam media – media terpecaya yang sekarang seperti youtube dll.(ifn)

Thursday, 17 May 2018

Transkip Wawancara dengan peserta dan panitia dalam acara Seminar ‘Semesta’



Hari sabtu tanggal 12 Mei 2018 saya mengikuti sebuah acara seminar di Eiscaffe jalan bendungan si gura gura Malang. Pada kesempatan ini saya tertarik untuk mewancarai beberapa narasumber yaitu Kevin dan Rosi. Kevin sebagai peserta dari acara seminar ini sedangkan Rosi panitia penyelenggara seminar.

Kevin – Peserta
Q : Apa yang kamu dapat dari acara seminar ini ?
A : Banyak, seperti ilmu tentang bagaimana menjadi announcer / penyiar yang baik, cara membuat script untuk penyiar radio.
Q : Menurut kamu bagaimana pemateri dalam seminar ini ?
A : Pemateri nya seru , menarik dan tidak membosankan
Q : Bagaimana suasana acara seminar ini ?
A : Pertama saya kira sepi, soalnya dari pemberitahuan acara nya jam 8 tapi entah kenapa acara nya molor sampai hampir jam set 10 baru dimulai. Ya akhirnya pada saat acara dimulai cukup ramai acaranya.
Q : Apakah kamu berniat untuk menjadi penyiar radio setelah mengikuti seminar ini ?
A : Mungkin tidak, karena menjadi penyiar radio itu bukan apa yang saya inginkan , bukan sesuai dengan passion sayalah
A : Apakah materi yang disampaikan pemateri cukup baik ?
Q : Cukup baik, akan tetapi pemateri kebanyakan bercanda dan bercandanya itu agak kurang ngena, agak garing gitu lah. Sedangkan untuk pas materi inti pemateri cukup baik dalam menyampaikan.

Rosi – Panitia
Q : Anda bagian panitia apa ?
A : Saya bagian panitia perlengkapan
Q : Mengapa perlu seminar ini diadakan mas ?
A : Supaya bisa sharing ilmu mengenai pengalaman dari pemateri yaitu Vetto dari radio Gen.FM . Dan disini UMM.Fm menyediakan tempat ataupun wadah bagi mereka yang ingin mendapatkan ilmu dan pengalaman tersebut
Q : Lebih ditujukan kemana acara seminar ini diadakan?
A : Ya pastinya untuk remaja dan khususnya Mahasiswa.
Q : Bagaiman dengan suasana acara ini ?
A : Cukup ramai dan antusias para peserta dengan adanya acaranya ini.
Q : Apa yang ingin ditujukan dari diadakan seminar ini ?
A : Ya ditujukannya dari acara ini ya ingin memberitahu bahwa menjadi announcer atau penyiar radio itu menyenangkan dan memiliki manfaat yang cukup.
Q : Apakah radio sekarang cukup berkembang dan mengikuti zaman ?
A : Menurut saya sekarang ya radio sudah mengikuti perkembangan zaman karena ya buktinya radio sekarang masih eksis, masih sering didengarkan oleh masyarakat umum tak terkecuali kalangan remaja ataupun mahasiswa. Terutama sekarang ada radio yang berbasis Online yang ada di aplikasi-aplikasi jaman sekarang.

Thursday, 3 May 2018

Pengaruh Globalisasi Terhadap Kebhinekaan yang Berdampak Pada Perkembangan Bangsa



Fakta Berita
What : Kebhinekaan Ditangan Pemilik Masa Depan, Pengaruh Globalisasi pada Kebhinekaan
Why : Setengah Abad FISIP dengan mengadakan seminar nasional
Who : Pemateri Dr. Rinikso Kartono
When : Hari Kamis tanggal 2 Mei 2018
Where : Aula Lantai 9 GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang
How : Acara berlangsung ramai full dengan memang mayoritas mahasiswa FISIP itu sendiri

Berita News
Pengaruh Globalisasi Terhadap Kebhinekaan yang Berdampak Pada Perkembangan Bangsa

Pada acara perayaan memperingati ulang tahun Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, diselenggarakan acara seminar yang bertajuk Seminar Nasional bertemakan ‘Kebhinekaan Ditangan Pemilik Masa Depan’. Seminar bertempat di aula lantai 9 GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang pada hari kamis tanggal 2 Mei 2018. Pemateri disampaikan oleh Dr. Rinikso Kartono, M.Si Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UMM. Acara berlangsung ramai, mahasiswa cukup antusias dengan diadakannya seminar ini karena sampai aula penuh.
Pemateri Dr. Rinikso Kartono, M.Si berkata “Pasar luar Negeri akan merusak Kebhinekaan kita”. Beliau menyampaikan bahwasannya Globalisasi sekarang memang sangat mengancam, terutama mengancam sebagian perusahaan yang ada di Indonesia. Ambil contoh perusahaan MNC yang hampir keseluruhannya dikuasai oleh asing, dengan hampir keseluruhan lini yang ada pada Indonesia dikuasai oleh asing, maka seperti garam, gula itu import. Sehingga akan menjadi sebuah ancaman tersendiri bagi Indonesia, terutama nanti pasti berdampak kepada rakyat.
Beliau juga menyampaikan bahwa Modernisasi saat ini tidak akan membawa dampak kualitas manusia yang baik. Pada kualitas tenaga kerja, pada zaman modern saat ini tidak mempengaruhi kualitas kerja itu sendiri dengan adanya alat-alat canggih yang dapat membantu tenaga kerja. Bahasa juga dalam era Globalisasi yang pesat saat ini sudah kehilangan beberapa persen dari kualitas bahasa yang baik dan benar. Saat ini bahasa dicampur-campurkan dengan bahasa asing yang di Indonesia menjadi tren tersendiri, yang itu dapat berdampak pada ‘Kebhinekaan’.
“Uang adalah Kekuasaan” – begitu yang di katakan oleh Pak Rinikso. “Sekarang Demokrasi saat ini yang pada Indonesia melahirkan banyak Partai – Partai, yang dari luar berbeda-beda tetapi sifatnya sama saja. Jika mereka dikehendaki jadi maka ya jadi, jika tidak dikehandaki ya tidak” – lanjut tutur beliau. Adapun sekarang Demokrasi Predator, dimana Rezim APBD, bisa jalan cepat jika APBD bisa dinaikkan anggarannya. Kedepan pasti akan terjadi sebuah konflik karena kedepan bukan hanya uang tetapi sistem yang akan mereka kuasai terutama sistem budaya yang ada Indonesia. Dan itu semua pasti akan sangat berpengaruh pada nilai kebudayaan yang berdampak pada Kebhinekaan itu sendiri(ifn)

Thursday, 26 April 2018

POST TEST ‘JOURNALISM IN THE INFORMATION AGE’



1.    Apa yang dimaksud dengan jurnalisme online?
Jawaban :
 Jurnalisme online adalah suatu jenis dari berita yang bersifat venuenya dijadikan publikasi informasi yang bisa dinikmati kapan saja atau terkoneksi. Salah satu contoh nya lewat website atau situs berita, ataupun bisa dikatakan sebuah kegiatan menghimpun berita, mencari fakta dan melaporkan suatu peristiwa menggunakan world wide web (www) sebagai web.

2.    Jelaskan dua saja perbedaan mendasar antara jurnalisme online dan jurnalisme cetak!
Jawaban :
Space : Daya Tampung atau pemuatan, jurnalistik online relatif tanpa ada batasan jumlah berita atau informasi yang akan dipublikasikan, juga tanpa adanya batasan jumlah huruf dan kata/kalimat. Berbeda dengan jurnalisme cetak yang dibatasi kolom/halama ataupun layout yang terbatas.
Immediacy : Kesegeraan, kecepatan dalam pemuatan konten berita. Jurnalisme online memungkinkan informasi dapat disampaikan secara cepat dan langsung kepada pembaca, dikarenakan internet adalah suatu cara mudah untuk mendapatkan sesuatu yang cepat dalam hal mengakses apapun. Sedangkan jurnalistik cetak harus menunggu untuk dicetak dahulu, kemudian didistribusikan terlebih dahulu disetiap daerah.

3.    Dari sisi audience-nya, apa perbedaan antara broadcast journalism dan print journalism?
Jawaban :
Perbedaan broadcast jurnalism dan print jurnalisme dari sisi audience ialah jika untuk broadcast jurnalisme maka audience nya adalah bisa disebut pemirsa ataupun penonton karena broadcast jurnalisme berupa gambar audio dan visual yang menjadi ciri khas nya , sedangkan untuk print jurnalis disebut pembaca, karena print jurnalis berupa media cetak berupa koran ataupun majalah yang memang ada visualnya tetapi tidak se kompleks broadcast jurnalisme.

4.    Tradisi jurnalisme televisi menurut Ashadi Siregar adalah standar kelayakan fakta social? Jelaskan maksud pernyataan tersebut!
Jawaban :
Penjelasan maksud dari kelayakan fakta sosial adalah dimana sebuah standart dalam pemberitaan sebuah peristiwa yang terjadi pada masyarakat. Sebuah fenoma sosial yang benar-benar terjadi pada masyarakat, yang sifatnya memang menyeluruh dan menyebar. Fakta sosial juga adalah fenoma yang bersifat umum pada masyarakat, hal-hal yang umum terjadi pada ruang lingkup masyarakat. Sehingga masyarakat menjadi paham dan menjadi standart apa yang diberitakan , apa yang disampaikan pada jurnalisme televisi tersebut, dan juga tidak adanya miss komunikasi dalam hal penyampain karena sudah sesuai fakta yang terjadi dilapangan.

5.    Jelaskan apa keterkaitan antara jurnalisme online dan jurnalisme warga!
    Jawaban :
Keterkaitan antara jurnalisme online dan jurnalisme warga adalah dalam hal kebebasan publikasi berita, yang dimana tidak ada batasan untuk mempublikasikan berita atau peristiwa yang sedang terjadi, dan juga kemudahan dalam mengakses dan menulis berita kemudian dipublikasikan dengan cepat kepada masyarakat luas. Dan jurnalisme online ini memang menjadi wadah bagi jurnalisme warga, dalam artian wadah adalah sebagai salah satu alat dimana nantinya berita yang mereka buat, berita yang mereka hasilkan, itu akan di uploud atau diberitakan melalui media online tersebut yaitu website, dan itu memang cara yang mudah bagi mereka karena bebas tanpa adanya aturan ataupun hal-hal yang mempersulit mereka untuk mempublikasikan suatu berita.

Thursday, 5 April 2018

Jenis – Jenis Jurnalistik




Citizen journalism dan Civic Journalism adalah jenis jenis dari jurnalistik yang hampir sama tapi memiliki beberapa perbedaan yang cukup signifikan. Pertama, citizen journalism adalah keterlibatan masyarakat dalam memberikan sesuatu. Sedangkan civic journalism memiliki beberapa poin penjelasan tentang definisinya, yaitu :
· Melibatkan wartawan professional
· Civic Journalism membutuhkan target & tujuan
· Membutuhkan konsistensi pemberitaan
· Butuh kemampuan wartawan dan redaktur untuk menggali persoalan
Civic journalism lebih mementingkan kebutuhan warga, dan juga lebih mendukung kepentingan masyarakat.
 Bentuk-bentuk citizen journalism :
· Partisipasi audiens, komentar pada blog, blog pribadi, video amatir, berita lokal.
· Berita independen atau informasi yang ditulis dalam website.
· Partisipasi dalam berita situs media mainstream.
· Artikel di milinglis (Sekarang sudah beralih ke WA group)
· Blog House
· News citizen transperency blogs (cth : kompasiana)
· Stand-alone citizens journalism site (rubrik citizen)
· Wikipedia

Dari penjelasan di atas, Citizen Journalism memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihan Citizen Journalism, yaitu :
1. Mendorong iklim demokratisasi (masyarakat bebas berpendapat, bebas berekspresi)
2. Memupuk budaya tulis dan membaca di masyarakat.
3. Mendukung terciptanya Public Sphere (Habermas – Public Sphere yaitu masyarakat yang sehat, masyarakat untuk bebas mengekspresikan diri)
4. Manifestasi fungsi watch dog (Pengawas), yaitu dengan mengcounter kritis media kepada petinggi atau media mainstream.
Kekurangan dari Citizen Journalism atau seperti tantangan dari Citizen Journalism, yaitu :
1. Masalah Profesionalisme.
2. Jurnalis orang terlatih.
3. Jurnalis terikat sitem.
4. Jurnalis bukan anonim.
5. Kualitas isi Penting.
6. Jurnalis terikat hukum (Undang-undang ITE)


Ø Jurnalisme Presisi
Kegiatan jurnalistik yang menekankan pada ketepatan (presisi) informasi dengan menggunakan pendekatan Ilmu Sosial.

Prosedur untuk melakukan jurnalisme presisi, yaitu :
· Koleksi data – harus mampu mencari data, bukan menunggu.
· Simpan
· Mendapatkan kembali data
· Analisis.
· Reduksi data
· Mengkomunikasikan

Ø Yellow Journalism Vs Lher Journalism,
o Yellow Journalism : Jurnalisme pemburukan makna, tujuannya untuk meningkatkan penjualan.
o Disebut juga sebagai penny pers
o Pulitzer Vs Hearst, The World vs The New york Journal.
o Ciri Khas : berita bombastis, sensanional pembuatan judul utama yang menarik perhatian.
o Lher Journalism : jurnalisme sensasional,  ditujukan untuk mencari sensasi semata.
o Disebut juga sebagai jurnalisme pornografi
o Pemberitaan mengarah pada seks
o Jurnalisn kher muncul sebagai representasi jurnalisme kelas bawah
o Simbol perlawanan masyarakat terhadap pemerintahan otoriter
o Lebih mementingkan bisnis daripada idealisme
o Jurnalise lher muncul sebagai representasi jurnalisme kelas bawah
o Simbol perlawanan masyarakat terhadap pemerintahan otoriter
o Lebih mementingkan bisnis daripada idealisme
o Bisa muncul di tengah euforia media massa

Peace Vs Peace Journalism
Ø Orientasi Peace Journalism
- Perdamaian
- Kebenaran
- Orientasi pada golongan masyarakat
- Orientasi pada solusi
Ø War Journalism
- Orientasi pada peran (konflik, dua pihak, tak transparan, fokus pada dampak kekerasan)
- Orientasi golongan elit
- Orientasi pada kemenangan
Dan perbedaan dari Citizens Journalism dan Peace Journalism , adalah dari segi bahasa yang digunakan. Peace bahasanya lebih halus daripada Citizens


Thursday, 29 March 2018

Konsep Dan Penjelasan Tentang Pers


 
 
  Pers adalah badan yang membuat penerbitan untuk media massa yang dilakukan secara berkala. Pers bisa dikatakan “kekuatan keempat demokrasi”, posisi mereka setara dengan yudikatif, legislatif, dan eksekutif karena pers mempunyai kekuatan untuk menggiring opini public dan mampu mengkontrol sosiak dan bisa menjadi pengkritis untuk ke 3 lembaga tersebut yaitu yudikatif, legislatif, dan eksekutif.

    Pers memiliki sebuah konsep dasar yaitu, Lembaga social dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik, mencari, mengelolah dan menyampaikan informasi dalam bentuk
tulisan, suara dan gambar.

    Pers ada kaitannya dengan jurnalistik , dalam jurnalistik terdapat beberapa ada beberapa tipe , seperti tipe yang pertama seorang jurnalis mereka jika di beri uang mereka menolak dan mereka tidak mengharapkan di kasih uang atau sejenisnya. Tipe yang kedua mereka jika dikasih uang menerima (biasa nya itupun karena digunakan untuk trasnpot saja) dan mereka tidak mengharapkan untuk dikasih uang. Tipe yang ke 3 mereka tidak akan menolak jika diberi uang pastinya, dan mereka mengharapkan diberi uang meskipun agak malu-malu. Ini biasanya seorang jurnalistik yang bekerja pada media yang baru. Tipe yang ke 4 mereka jika diberi uang pastinya tidak akan menolak, dan mereka juga berharap akan diberikannya uang bahkan mereka lebih kesan memaksa. Ini jurnalistik yang bekerja pada media abal-abal.

    Kebebasan Pers memperhatikan penghormatan hak dan kewajiban individu serta masyarakat dan menaati peraturan yang berlaku. Di Indonesia sendiri Konsep Persnya adalah “Pers Pancasila”, yaitu “Pers yang bebas dan bertanggung jawab”. Di sini bisa di artikan Bebas mengemukakan pendapat lisan serta tulisan dan Bertanggung jawab pada kode etik jurnalistik, norma hukum dan pilar profesionalisme.

    Pers bisa juga di katakana Lembaga Penyiaran sosial & Bisnis. Haris Sumadiria mengatakan, pers akan kokoh jika bertumpu pada 3 pilar penyangga utama, yaitu :
1. Idealisme yang artinya menegakkan nilai demokrasi dan Ham, memperjuangkan keadilan dan kebenaran
2. Komersialisme yang artinya Pers harus kuat & seimbang, pers tidak boleh rugi, harus untung
3. Profesionalisme yang artinya paham menilai tinggi keahlian professional

    Pers juga sebagai Lembaga Sosial atau Kemasyarakatan, yang fungsinya Sebagai Lembaga atau social permasyarakatan pers melakukan social control dan di pengaruhi oleh sistem – sistem social yang lain.
Ciri-Ciri dari Pers yang professional, ialah :
Memiliki keahlian yang diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman.
Mendapat Gaji yang layak sesuai keahlian.
Terikat moral dan etika.
Bergabung dengan organisasi pers, seperti contoh di Indonesia ada PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) dan AJI (Aliansi Jurnalistik Independen).
Memiliki kecintaan pada profesi, tidak semua orang bisa menjalankan profesi ini.

    Ciri – ciri Pers :
1. Periodesitas : Pers harus terbit secara teratur, berdasarkan periodesitas dan harus konsisten dalam pilihan penerbitnya.
2. Publistas : Pers ditujukan pada khalayak heterogen, baik secara geografis & psikografis.
3. Aktualisasi : Informasi yang disampaikan harus mengandung unsur kebaruan, baik dari segi aktualitas calendar, aktualitas waktu dan aktualitas masalah.
4. Universalitas : Berkaitan dengan kesemestaan pers dilihat dari sumbernya & aktualisasi masalah
5. Objektivitas : Nilai etika dan moral harus dipegang teguh dalam menjalankan profesi jurnalistiknya.

    Fungsi Pers :
1. Fungsi Informasi (to inform) untuk menginformasikan sebuah berita ataupun info yang baik dan benar kepada khalayak dan masyarakat umum.
2. Fungsi Edukasi (to educate) sebagai lahan untuk menyampaikan berbagai hal yang berkaiatan dengan pembelajaran atau ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat.
3. Fungsi Menghibur (to entertain)
4. Fungsi Mempengaruhi (to influence) untuk mempengaruhi masyarakat agar bisa mengalami suatu perubahan yang dirasa dulu nya itu buruk menjadi baik
5. Fungsi menghubungkan dan menjembatani (to mediate) sebagai lahan penyambung untuk menghubungkan antara pemerintahan dengan masyarakat.
6. Fungsi control social terhadap perilaku masyarakat.

Thursday, 22 March 2018

Macam – Macam Teori Pers




Teori Pers Otoriter

    Teori Pers Otoriter adalah teori pers yang tertua, yaitu pada abad ke-16. Ketika itu penerbit-penerbit diawasi melalui paten-paten yang telah ditetapkan, izin terbit, kemudian sensor yang juga telah ditetapkan oleh pemerintah setempat. Tugas pers disini ialah mendukung dan membantu politik pemerintah yang berkuasa untuk mengabdi kepada negara. Pers tidak boleh mengakuisi alat-alat negara dan penguasa. Pers juga saat itu dibawah pengawasan dan dikontrol penuh oleh pemerintah, yang artinya rakyat tidak memiliki hak penuh dalam mengaspirasikan pendapatnya dan tidak bisa memberikan opini secara bebas melalui pers. Jika ada yang ketahuan pemerintah dalam hal pelanggaran yang telah ditetapkaan makan akan ditindak dan dihukum.

Teori Pers Liberal
    Sejarah dari Teori Pers Liberal ini merupakan perkembangan atau improvisasi terhadap pers sebelumnya, yaitu pers otoriter . Dimana itu menimbulkan reaksi dari pers yang dimana pada saat itu didominasi oleh kekuasaan dan pengaruh penguasa melalui berbagi upaya yang sangat mengekang dan menekan keberadaan pers saat itu. Jadi seperti pers liberal itu sarana penyalur suara nurani rakyat yang berlandaskan akan kebebasan.
    Ciri-cir dari Teori Pers Liberal :
·    Tidak ada batas hukum dalam mencari berita
·    Tidak diperlukannya izin dalam penerbitan dan pendistribusian informasi
·    Publikasi yang bersifat bebas dari penyensoran
·    Tidak ada Kebijakan untuk mempubliaksi segala hal

Meskipun terlihat sudah bebas , serta berlandaskan akan kebebesan, Pers Liberal memiliki hal yang negatif, seperti :
·    Sedikit berbuat kebajikan
·    Sedikit mengadakan kontrol terhadapa pemerintah
·    Sedikit batasan serta aturan

Tugas dari Pers Liberal, yaitu :
·    Menjaga hak warga negara
·    Bidang Periklanan
·    Mencari dan meperoleh keuntungan
·    Menyediakan dan memberikan hiburan atau informasi
Teori Pers Komunis

    Teori Pers Komunis Soviet baru terbentuk atau dikenal dua tahun setelah Revolusi Oktober 1917 di Rusia. Berdasarkan dari gagasan Karl Marx dan Freedrich Engels dalam arti sempit Teori pers komunis ini adalah pers yang dimiliki oleh negara dan berfungsi melayani kepentingan kelas pekerja. Secara garis besar teori ini ialah sebuah sistem yang segala sesuatunya berkaitan pers dan pemerintahan secara keseluruhan itu dikuasai dan diatur oleh pemerintahan atau partai yang berkuasa. Perbedaan dengan teori-teori pers lainnya adalah :
·    Dihilangkannya motif profit (yakni prinsip untuk menutup biaya pada media.
·    Menomorduakan kopikalitas (orientasi pada “ apa yang sedang dibicarakan”)
·    Jika dalam teori penguasa orientasi semata-mata pada upaya mempertahankan “status – quo” (keadaan yang sekarang)

Kelebihan dan kekurangan dari Teori Komunis :
1.    Media bebas melaksanakan tugas – tugas sebagai instrumen negara dan partai
2.    Sistem ini dibangun sebagai bagian dari perubahan dan untuk membantu mencapai perubahan
3.    Sistem soviet untuk membangun status-quo soviet, tetapi selalu dalam konteks perubahan dan perkembangan.


Kelemahannya :
1.    Hanya menguntungkan kaum sosialis karena hanya memburu keberhasilan bagi kediktatoran partai.
2.    Tidak semuanya berhak dapat menggunakan media dari sistem ini karena hanya anggota-anggota parti yang loyal saja berhak.

Teori Sistem Pers Bertanggung Jawab Sosial

    Teori ini yang mengemukakan tentang kebebasan pers yang harus disertrai dengan adanya tanggung jawab kepada masyaraakt. Didasari oleh moral serta hati nurani insan pers karena kemerdekaan pers, harus juga disertai tanggung jawab kepada masyarakat. Teori ini muncul di karenakan respon dari teori liberal.
     Ciri-ciri nya :
·    Media mempunyai kewajiban kepada masyarakat
·    Kewajiban dipenuhi dengan standar profesional
·    Media melihat akibat yang akan terjadi setelah disampaikan suatu berita
·    Hakekat media mencerminkan kebhinekaan

Sistem ini merupakan penggabungan dari sistem-sistem yang sudah ada dan diformulasikan untuk mengemban nilai-nilai sesuai kodrat manusia. Negara yang menganut sistem ini adalah Indonesia dan Amerika karena kedua negara tersebut menggunakan sistem pemerintahan yang demokrasi.

Teori Media Pembangunan

    Teori media pembangunan adalah teori perkembangan dari teori tanggung jawab sosial, yang dimana lebih mementingkan pembangunan yang itu bertujuan untuk mensejahterakan rakyatnya, Teori media pembangunan ini berkembang dinegara bagian eropa atau negara berkembang yang masih memiliki keterbatasan seperti tidak didukung insfrastruktur komunikasi dan terbatasnya keterampilan profesional sumber produksi. Media massa yang berkembang menurut teori ini lebih banyak mengedepankan persoalan pembangunan dalam bidang ekonomi sosial politik dan budaya. Ciri-ciri penting dari teori ini menerima dan membangun pembangunan yang positif sesuai kebijaksanaan yang sudah ditetapkan negara.

Teori Pers Partisipan Demokrat

    Sebenarnya merupakan reaksi dari ragam teori normatif media dalam masyarakat liberal. Teori ini kebentuk menunjukkan kekecewaanya terhadap sisttem politik parlementer. Teori demokratik partisipan terbentuk sebagai reaksi teori lain sebagai gerakan positif ke arah bentuk baru lembaga pers. Stimulus/rangsangan teori ini adalah reaksi terhadap komersialisasi/sebuah proses menguangkat sesuatu dan pemonopolian pers.
    Prinsip dari teori ini adalah :
    Setiap warga negara secara individu dan kelompok minoritas memiliki hak untuk pemanfaatan media dan hak untuk dilayani oleh media:
·    Organisasi dan Media Seharusnya tidak tunduk pada pengendalian Politik yang dipusatkan ke negara
·    Kelompok, organisasi, dan masyarakat lokal seharusnya memiliki media sendiri.
·    Media seharusnya untuk audiens, bukan untuk organisasi media.